Oleh: laodeidacenter | 2012/02/16

Andai Tuhan Hadir di Bumi

Oleh : La Ode Ida

Perseteruan antara pihak Kepolisian dan dua pimpinan KPK nonaktif Bibit S. Riyanto dan Chandra M. Hamzah (Bibit-Chandra) semakin seru. Setelah sidang Mahkamah Konstitusi (MK) membuka  rekaman percakapan (hasil sadapan KPK) antara Anggodo Widjojo dan jaringannya, pihak petinggi kepolisian tampak sedikit kehilangan keseimbangan. Betapa tidak. Hujatan publik kepada lembaga yang sebenarnya diberi mandat sebagai penegak hukum dan pengayom masyarakat di bidang keamanan  dan ketertiban itu demikian kuat. Apalagi setelah mantan Kapolres Jakarta Selatan, Wiliardi Wizard, yang juga diperkuat penuturan istrinya yang turut mengikuti sebagian proses penyidikan suaminya, membuat pengakuan kontroversial yang kembali menyudutkan pimpinan kepolisian dengan menyatakan bahwa dirinya diarahkan untuk menjebak Antasari Azhar menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Namun, dengan pembukaan transkrip lengkap percakapan para mafia korupsi itu, MK dianggap telah mempermalukan kepolisian. Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan Presiden pun ternyata menemukan indikasi yang tidak menggembirakan pihak kepolisian. Atas rekomendasi awal dari TPF dan juga desakan kuat dari publik, penahanan terhadap Bibit-Chandra sebagai tersangka terpaksa harus ditangguhkan.  Sementara itu, salah satu saksi kunci, Ari Muladi, mulai “bernyanyi”  menyebut satu per satu orang yang memperoleh uang sogokan yang ternyata bukan kepada Bibit-Chandra, sekaligus mengklarifikasi bahwa kesaksiannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP) pertama akibat tekanan dari pihak penyidik kepolisian.  Tepatnya, lembaga kepolisian seperti diobok-obok kekuatan dahsyat dari luar, berada pada posisi “tersudutkan”, sehingga cenderung kehilangan kredibilitasnya.

Tapi, pihak pimpinan kepolisian seperti tak ingin cepat “menyerah” dari tuntutan publik. Mereka berupaya memberi penjelasan yang gamblang kepada DPR. Dan, seperti yang kita saksikan dalam rapat dengar pendapat yang berlangsung hingga dini hari selama dua hari, beberapa waktu lalu, sejumlah anggota DPR cukup kuat memberi dukungan politik dan moral kepada pihak kepolisian. Setidaknya, “nasib” yang menimpa kepolisian memperoleh belas kasihan dari para wakil rakyat itu – kendati kemudian juga para pejabat di Senayan itu memperoleh kecaman luas dari publik. Untuk membantah pernyataan Williardi dan istrinya di persidangan pun pimpinan kepolisian mengeluarkan beberapa video rekaman yang terkait.

Yang menarik dalam perseteruan itu adalah bahasa tubuh dari Kabariskrim (nonaktif sementara), Susno Duadji, yang bersumpah dan menangis di hadapan sidang Komisi III DPR.  Dengan ekspresi yang memohon iba, Susno bersumpah: “lillahi ta’ala, saya tidak  tidak pernah menerima uang sepuluh miliar…”. Selain itu, ia juga menyatakan sudah meminta  kepada Tuhan untuk mencabut nyawanya seandainya ia berbohong. Padahal, memang Tuhan pasti suatu suatu akan mencabut nyawa setiap mahluk bernyawa, tidak pandang bulu, termasuk kelak Susno Duadji dan kita semua.

Upaya melakukan pembelaan diri sekaligus mencari simpati kadang-kadang memang membuat seseorang ‘salah tingkah’. Apalagi kalau sudah terdesak oleh tekanan publik terkait dengan kepercayaan dan pencitraan seperti yang dialami pimpinan kepolisian sekarang ini. Tak heran kalau nama Tuhan pun dibawa-bawa. Padahal semua orang pun tahu bahwa Tuhan pasti tak bisa membantu menjelaskan, tak akan bisa menjawab, meski Ia sebenarnya Maha Tahu segala niat, perkataan dan tindakan semua hamba-Nya. Singkatnya, Tuhan pasti tahu perbuatan pihak pejabat di jajaran Polri, Kejasaan Agung atau KPK, termasuk pihak-pihak lain, yang terlibat dalam semua kasus korupsi di negeri ini di mana yang dipersoalkan saat ini hanyalah bagian dari gunung es yang, bila Tuhan menghendaki, mungkin secara perlahan dan pasti akan terus mencair.

Andai Tuhan bisa berwujud dengan secara fisik hadir di bumi Indonesia ini pastilah semua teka-teki ini akan segera berakhir. Sebab, yakinlah, Tuhan punya cara jitu untuk menjadikan orang tak berdaya dari kebohongan, dari kepura-puraan. Susno Duaji tak perlu bersumpah atas nama Tuhan lagi. Tuhan akan segera menunjukkan apakah perkataannya benar atau bohong. Tuduhan kriminalisasi terhadap KPK pun tak perlu berlarut-larut, niscaya akan ditunjukkan benar tidaknya polemik itu. Kasus Bank Century akan segera terkuak siapa-siapa yang terlibat dalam penyalahgunaan wewenang dan penguna dana itu meski DPR tak akan meloloskan usulan penggunaan hak angket yang sekarang ini menjadi wacana, misalnya.

Singkatnya, para pejabat pelaku korupsi dan penebar kebohongan atau kepalsuan di negeri ini akan dimunculkan dalam wujud daftar panjang yang mungkin akan kehabisan kertas dan tinta untuk menuliskan semua fakta itu. Dan, akhirnya mungkin Tuhan akan menyatakan: “Oh …, negara ini ternyata sudah dikuasai sindikasi mafia korupsi.” Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun tak perlu lagi repot-repot membuat agenda “ganyang mafia” dalam 100 hari kabinet jilid duanya, karena sudah akan ditunjukkan Tuhan siapa-siapa saja para aktor dan atau pejabat yang terlibat di dalamnya. Bahkan gambaran niat, ucapan, tindakan, dan kebijakan diri SBY pun akan ditunjukkan secara langsung oleh Tuhan berdasarkan catatan dari malaikat pencatat kebaikan dan kejahatan bagi manusia (Raqib dan ‘Atied).

Tetapi, sudah pasti Tuhan tak akan pernah berwujud kehadiran-Nya, tak akan pernah berwujud seperti manusia. Sang Maha Pencipta itu paling banter hanya akan menunjukkan tanda-tanda tertentu apakah perbuatan manusia sebagai khalifah di bumi ini sudah benar atau salah. Syair penyanyi kondang nan religius Ebiet G. Ade barangkali bisa dijadikan renungan: “… mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkat kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa …”.

Indikasi bahwa di negeri ini sudah digerayangi kalangan mafia atau penjahat sebenarnya demikian kuat. Posisi atau jabatan strategis yang terkait dengan pengelolaan uang negara, benar-benar menjadi tempat yang digandrungi banyak orang. Maka, tidak heran kalau para pengusaha selalu berupaya untuk mendekat dan membangun hubungan personal dengan para figur penentu kebijakan dan atau berpengaruh dalam proses pengambilan kebijakan. Mereka bisa berkorban materi dan segalanya untuk mendekat dan memperoleh bagian dari proyek untuk dikerjasamakan. Para pejabat pun (seperti menteri, gubernur, bupati, wali kota dan jajaran mereka, serta kalangan anggota legislatif dan atau siapa pun yang memiliki posisi strategis) sungguh sangat senang bila bisa membangun hubungan serta berkolaborasi dengan pengusaha.

Dalam proses-proses itulah terjadi suap-menyuap, sogok-menyogok, termasuk di dalamnya tipu-menipu di antara mereka. Perantara sangat berperan, termasuk melibatkan orang-orang dalam atau pihak keluarga. Dan, kalau sudah bermasalah, maka pihak pengacara sungguh berperan dan memperoleh materi atas pembelaan yang mereka lakukan. Sementara pihak pejabat penegak hukum yang berwenang,  kalau basis moralitas religiusnya rendah, akan selalu menjadikan kasus-kasus semacam itu sebagai “proyek basah”. Itu pulalah fenomena yang terjadi dalam kasus Anggodo-KPK-Kepolisian pada saat ini.

Semua kondisi itu, hemat saya, sebenarnya sudah diketahui para pemimpin bangsa ini. Kini saat tepat untuk tidak boleh lagi ada kepura-puraan, bahwa  seolah-olah para pemimpin bangsa ‘tidak tahu’ sehingga perlu terlebih dulu muncul gerakan massa baru  mereka tersadar untuk memerangi kejahatan atau jaringan mafia dalam negara. Sebab, ketika seorang  atau pihak berwenang bersikap diam, membiarkan, dan bahkan memberi peran besar  kepada figur-figur yang sudah masuk dalam daftar kecurigaan sebagai bagian dari ‘pelaku atau jaringan mafia korupsi’, maka yang bersangkutan patut diduga  sebagai pihak yang ‘memperoleh bagian atau keuntungan’ dari kerja jaringan mafia itu.

Ini artinya, para mafia itu tidak hanya bergerak di dalam lembaga peradilan, melainkan juga justru basisnya, yakni jajaran eksekutif dan legislatif, di semua lini dan level di negeri ini. Oleh karena itu, SBY harus menjauhkan diri atau membersihkan jajarannya terlebih dahulu dari jaringan mafia yang bukan saja terus merusak sendi-sendi moralitas bangsa ini, melainkan juga telah menjadikan pencapaian kesejahteraan rakyat, seperti diamanahkan konstitusi, kian tidak pasti.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: