Oleh: laodeidacenter | 2012/02/17

Angket Century Gate dan Ancaman “Angin Jahat”

Oleh : La Ode Ida

Badan Musyawarah (Bamus) DPR ( Kamis, 19/11/09) telah menyetujui usul penggunaan hak angket terhadap kasus dana talangan (bailout) Bank Century (Century gate), selanjutnya diagendakan untuk dibahas dalam rapat paripurna (rapur). Jumlah penandatangan usulan yang diinisiasi FPDI-P itu hingga artikel ini ditulis, sudah berjumlah lebih dari 200 anggota. Hanya membutuhkan sekitar 80 orang anggota lagi sehingga bisa lebih dari setengah jumlah anggota parlemen untuk usulan tersebut kemudian berlanjut.

Langkah politik sebagian politisi Senayan itu sangat positif. Soalnya, kasus itu terkait dengan penggunaan uang negara sejumlah Rp 6,7 triliun untuk mengatasi agar bank swasta yang mengalami “sakit kronis” itu bisa kembali sehat. Padahal, secara resmi DPR tidak pernah memberi persetujuan terhadap jumlah dana talangan itu.

Keputusan tentang jumlah dana itu, konon, hanya diputuskan sepihak oleh eksekutif dan pihak terkait selain DPR, yang menurut data yang dimiliki Drajat Wibowo (mantan anggota DPR, Komisi XI) dilakukan pada malam dini hari. Pertanyaan kecurigaan pun muncul: ada motif apa di balik itu. Apalagi kemudian M. Jusuf Kalla, yang saat itu masih jadi Wapres, berkomentar dengan menganggap kebijakan itu tidak sah, bahkan tergolong sebagai “parampokan uang negara”. Maka tidak salah kalau masyarakat bangsa ini mencurigai adanya aroma “pemanfaatan kekuasaan yang menguntungkan kelompok tertentu, termasuk terkait dengan dana kampanye pemilu yang lalu”.

Diharapkan, langkah politik DPR itu bukan sekadar mencari popularitas setelah dihujat publik terkait dengan sikap komisi III dalam merespons perseteruan KPK vs Polri dan Kejaksaan Agung, bukan pula untuk memperkuat posisi tawar dengan pihak penguasa untuk kepentingan pragmatis; melainkan untuk memperoleh penjelasan secara komprehensif tentang kebijakan pemerintahan SBY di penghujung periode pertamanya dalam menyelamatkan bank swasta itu.

Tepatnya, langkah progresif lebih lanjut sangat dinantikan oleh rakyat negeri ini. Sebab, bila tidak, bukan mustahil DPR akan kian mengalami delegitimasi sosial dan moral, dan pada saat bersamaan gelombang parlemen jalanan akan terus berlangsung dengan caranya sendiri yang sulit dikendalikan. Dan, kalau itu terjadi, stabilitas politik dalam negeri kemudian bisa mengalami kegoncangan, dan selanjutnya akan berimplikasi negatif terhadap implementasi agenda-agenda strategis pembangunan nasional.

Kendati begitu, memuluskan agenda hak angket bukanlah perkara mudah.  Sebab, sesuai tata tertib DPR, usulan tersebut harus melewati persetujuan dalam rapur yang rencananya akan digelar tgl 1 Desember mendatang. Di situlah tantangan utama dan sekaligus ujian terberat.  Nurani dan moralitras serta sikap kenegarawanan para politisi terkait indikasi penyimpangan atau penyalahgunaan uang negara akan dibuktikan. Lawan dan kawan dalam mengungkap pun akan benar-benar terlihat, sekaligus akan disaksikan langsung oleh rakyat yang memilih mereka.

Dalam konteks ini, beberapa faktor yang diperkirakan akan menghambat laju dan progresivitas hak angket ini. Pertama, dilema atau ketegangan antara hak anggota dan komitmen koalisi. Para anggota DPR memang memiliki hak untuk mengungkapkan pendapat, sikap atau bersuara. Namun, mereka tidak bisa melangkah lebih jauh tanpa sepersetujuan fraksi atau parpol basisnya. Parpol, bahkan boleh dikatakan, memiliki otoritas di atas segalanya, di mana kalau ada anggotanya yang melakukan pembangkangan, maka akan mendapatkan sanksi yang terkait dengan status keanggotan dan nasibnya. Singkatnya, kalau mau aman, politisi haruslah sejalan dengan kebijakan parpol, dan sebaliknya kalau “mau kehilangan kursi di Senayan” maka silahkah terus melangkah sendiri.

Padahal, kita semua tahu bahwa tanpa dukungan para anggota DPR yang partainya resmi bergabung ke dalam koalisi di pemerintahan pasti tak akan memperoleh dukungan atau persetujuan resmi kelembagaan. Sementara sikap Partai Demokrat (PD) yang nota bene merupakan “milik” Presiden Yudhoyono sudah jelas menolak. Penolakan ini harus dimaknai sebagai sinyal bagi parpol koalisi agar tidak mendukung usulan hak angket tersebut. Atau, kalau ada partai yang mau coba-coba mendukung hak angket, bukan mustahil ia akan dianggap sebagai “pembangkang koalisi”, menghendaki “pecah kongsi”.

Peringatan Presiden SBY agar parpol koalisi tetap konsisten terhadap komitmen mereka harus diperhatikan serius, karena bisa tersirat atau bermakna sebagai sinyal untuk sama-sama mem-back up sikap PD dalam kaitan dengan usul hak angket itu. Dan, bila saja kemudian para anggota DPR dari unsur koalisi itu tetap bertahan mendukung pembentukan Pansus Angket Bank Century, maka sebagian anggota kabinet dari parpol, utamanya para ketua umumnya, akan merasa “tidak enak” terhadap SBY lantaran tak bisa mengamankan anak buahnya di parlemen. Para anggota yang membangkang itu kelak akan berurusan dengan pimpinan parpolnya, yang sudah pasti berintikan tekanan kekuasaan – sebuah konsekuensi dari kesadaran “kolaisi buta dan bisu akan kebenaran dan tuntutan publik”.

Kedua, pragmatisme dan “angin jahat”. Pihak yang khawatir dari adanya usul hak angket DPR tentu saja tidak akan tinggal diam. Apalagi kalau hal itu terkait dengan citra pihak pengambil kebijakan yang melahirkan Century Gate, yang dianggap sebagai bagian dari pertarungan besar. Maka, kecuali dengan memanfaatkan otoritas pimpinan parpol koalisi, masih akan ada upaya lain untuk menghentikan niat pembentukan pansus melalui cara-cara politik pragmatis. Politik uang, yang sudah menjadi bagian dari “bau busuk” di bangsa kita ini, merupakan bagian dari upaya itu. Sasaran utamanya tentu saja para politisi yang beroirientasi pragmatis atau minus orientasi dan ideologis-kerakyatan, ditambah lagi dengan keinginan untuk segera bisa mengembalikan biaya politik selama proses kampanye dan pemilu.

Tepatnya, tidak mustahil dalam proses-proses politik menghadapi dan atau menyelesaikan Century Gate ini akan selalu berhembus “angin jahat” yang akan masuk ke dalam atau menembus tubuh para politisi berwatak pragmatis. Istilahnya, para politisi pragmatis itu besar kemungkinan akan kemasukan “angin jahat”, sehingga menjadi penyakit yang akan menghambat pewujudan hak angket. Para mafia, seperti halnya juga disinyalir beroperasi dalam kasus-kasus penyalahgunaan kekuasaan, jabatan dan kewenangan dalam rangka menyelamatkan pihak yang bermasalkah, jelas akan sangat berperan secara kuat di dalam proses-proses itu.

Pertanyaannya, mengapa para pejabat atau politisi kita banyak yang seolah-olah begitu ketakutan dengan hak angket dalam kasus Century Gate ini? Padahal kalau memang segala sesuatunya dianggap sudah berjalan dalam koridor hukum, apalagi untuk kepentingan bangsa dan negara, maka tidak perlu ragu. Justru upaya politik semacam itu harus didorong agar masyarakat luas tidak lagi curiga dan skeptik terhadap pemerintah. Bukankah pemerintahan yang baik, dan pejabat yang kredibel, harus selalu mengambil langkah sehingga masyarakatnya tenang dengan tingkat kepercayaan kepada pemerintahnya yang tinggi akibat dari kebijakannya yang memuaskan?

Sebaliknya kalau para politisi terus melakukan upaya ”sabotase” sehingga hak angket gagal, maka akan terus memunculkan kecurigaan terhadap Presiden SBY dan kalangan pejabat yang terkait dengan proses pencairan dana talangan Bank Century itu. Bahkan, bukan mustahil pihak-pihak itu akan dianggap sebagai bagian dari yang memperoleh keuntungan pribadi dan kelompok atas kebijakan mereka sendiri.

Padahal, seluruh warga bangsa ini akan selalu tidak rela kalau figur pimpinan negara dan pejabat-pejabatnya yang terkait terus dicurigai untuk sesuatu kasus yang sebenarnya dapat segera dijelaskan kepada publik, baik melalui mekanisme hukum, administrasi maupun politik seperti yang sudah diisiniasi sejumlah anggota DPR itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: