Oleh: laodeidacenter | 2012/02/23

KESEPAKATAN LONDON

Sudah dua kali Laode Ida ikut dalam pertemuan GLOBE International di London, Inggris. Pada pertemuan Juni 2010, bersama beberapa anggota DPD dan DPR (Komisi IV yang dipimpin oleh Ahmad Muqowam), ia mempresentasikan posisi nelayan Indonesia dan kebijakan berbasis konstitusi yang diterapkan di Indonesia. Pada pertemuan itu terjadi perdebatan alot karena pihak GLOBE International yang didukung oleh para ahli di bidang ekonomi maritim telah menyiapkan rancangan rekomendasi kebijakan internasional untuk PENGHAPUSAN SUBSIDI BAGI NEYALAN. Laode Ida, Muqowam dkk, menolak keras draft itu sehingga akhirnya di bawah ke forum ‘lobby khusus’.

Dan, dengan argumentasi yang meyakinkan dan mengedepankan alasan (1) konstitusi Indonesia yang berparadigma intervensi (state intervention paradigm), (2) kondisi sosial ekonomi nelayan Indonesia yang umumnya miskin sehingga negara harus membantunya, dan (3) definisi sosial-aktual tentang nelayan Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara maju; maka rancangan rekomendasi itu kemudian segera dirubah sesuai dengan konsep-konsep strategis “nelayan bersubsidi” ala Indonesia.

Kita bisa membayangkan kalau saja parlemen Indonesia tak mengirim delegasi pada pertemuan itu. Karena  GLOBE International (Global Legislator for a Balance Environment) merupakan satu-satunya organisasi parlemen dunia yang sangat berpengaruh rekomendasinya dalam mempengaruhi kebijakan dalam bidang lingkungan internasional. Dan, pada pertemuan itu pun disepakati perlunya gerakan bersama untuk memerangi berbagai bentuk illegal fishing (pencurian ikan) terutama kerap terjadi di perairan Indonesia.

Pada pertemuan 6-11 Mei 2011, Indonesia hadir dengan tiga anggota parlemen, yakni Laode Ida (DPD), Ahmad Muqowan (DPR) dan Sultan Najamudin (DPD). Kegiatan kali ini berbentuk lokakarya  tentang Forum Legislator Yang Menginisiatif Perhutanan Kembali (Legislator Initiative Reforestry Forum). Muqowam berbicara mempresentasikan tentang kebijakan di bidang kehutanan di Indonesia, sementara Laode Ida secara khusus mengangkat kasus “Gerakan Menabung dengan Menaman Pohon”, praktik nyata yang dilakukan oleh anggota DPD Anang Prihantono di Lampung, di mana setiap bulannya rata-rata menanam 10.000 pohon, yang dilakukan sendiri dan dalam bentuk kemitraan.

Menurut Laode Ida, inisiatif dan sekaligus aksi nyata dari Anang itu dapat membantu mengatasi sebagian problem ekonomi rakyat kita, karena dengan dalam waktu lima tahun, sebatang pohon sudah bisa bernilai jutaan rupiah. “Kalau suatu keluarga, disaat mereka mulai membangun keluarga, maka lima atau enam tahun kemudian bisa memetik langsung hasilnya. Risiko kerugiannya pun sangat kecil, karena hanya memerlukan perawatan pada masa-masa awal. Bahkan, data menunjukkan, bahwa harga kayu ternyata mengalami kenaikan 100% setiap lima tahun sekali”, paparnya. Sehingga, kalau satu keluarga menanam sampai dengan 100 pohon di dalam kebunnya, maka lima atau enam tahun kemudian dia sudah akan memperoleh hasilnya sekitar Rp. 100 juta.

Laode Ida juga membayangkan apa yang sudah secara swadaya dilakukan oleh beberapa pihak di Sulawesi Tenggara. Laode Rifai Pedansa (pengusaha dan politisi senior PDIP Sultra), misalnya, giat menanam jati di kebunnya sendiri dan juga di beberapa kebun masyarakat. Ini suatu yang sangat berharga bagi masyarakat dengan kontribusi pelestarian lingkungan dan karbonnya yang sangat besar; suatu yang benar-benar perlu ditiru. Demikian juga, kasus pelaku illegal logging di Konawe Selatan yang kini sudah menjadi pelestari lingkungan di bawah manajemen KHJL (Koperasi Hutan Jaya Lestari), juga disinggung dalam presentasinya di London. Dan ternyata, keberadaan KHJL ini sudah juga dikenal oleh Lembaga Pembangunan Internasional Pemerintahan Kerajaan Inggeris (DFID), yang pada kesempatan itu juga menjadi salah satu nara sumber di hari kedua.

Laode Ida, Ahmad Moqowam dan Muh. Prakosa, menjadi pihak legislator Indonesia yang menanda tangani kesepakatan inisiatif untuk perhutanan kembali, bersama tiga negara yang memiliki hutan tropis lainnya, yakni Brazil, Mexico dan Congo.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: