Oleh: laodeidacenter | 2012/02/28

Jurus Menyangkal Angelina Sondakh

Oleh : La Ode Ida

Angelina Sondakh (Angie) tampaknya memainkan “jurus menyangkal” dalam memberikan kesaksian untuk terdakwa Nazarudin di pengadilan Tipikor (Rabu, 15/2). Ia tidak mengakui sebagian materi kesaksian atau fakta-fakta yang pernah disampaikan oleh pihak terkait tentang peran yang dimainkannya dalam kasus wisma atlet.

Strategi berkelit mantan putri Indonesia itu menjadikan pihak KPK, pengacara Nazarudin dan juga publik bangsa ini terkaget-kaget. Soalnya, sikap yang ditunjukkannya sungguh tak kooperatif dan sekaligus melawan arus serta keyakinan masyarakat luas bahwa ia merupakan salah satu aktor penting dalam proyek di Kementerian Pemuda dan Olah Raga. Bahkan lebih dari itu, Angie sudah dikesankan sebagai bagian dari jaringan mafia anggaran di Senayan.

Kendati begitu, secara teoritik sebenarnya sikap politisi Partai Demokrat (PD) itu semakin meyakinkan tentang adanya jaringan kuat kejahatan kerah putih di barisan pengambil kebijakan anggaran di negeri ini. Mengapa? Pertama, secara prinsip para penjahat memang tak akan pernah berkata jujur terkait dengan perilakunya, karena sudah terlatih dan terbentuknya karakternya berbohong. Siapapun bisa menjadi korban dari kemunafikan para penjahat.

Apalagi yang bersangkutan berpengalaman dan berpendidikan tinggi, akan dengan mudah memutar balikkan fakta dengan argumen-argumen terkadang meyakinkan dan menggoyahkan.  Lupakan untuk bicara tentang ajaran agama atau nilai-nilai luhur kejujuran pada para penjahat itu, karena semuanya hanya dianggap sebagai “dunia bayang-bayang”, urusan di kemudian hari. Sementara urusan atau kepentingan duniawi hari ini adalah menghindarkan diri dari jeratan hukum untuk selanjutnya bisa menikmati “hasil curian” dan atau kemudian bisa melanjutkan kebiasaan merampok uang yang sebenarnya menjadi bagian dari hak rakyat.

Kedua, setiap anggota jaringan mafia, pasti akan selalu patuh pada aturan dan sistem komando untuk saling mengamankan. Ini merupakan komitmen utama dari para mafioso yang berada dalam satu jaringan. Barang siapa yang membelot, maka yang bersangkutan akan diisolir dan bila perlu dibunuh alias dihabisi nyawanya sehingga tidak membias atau melebar untuk selanjutnya menyeret anggota jaringan lain.

Ini artinya, kalau Angie mengakui tuduhan para saksi termasuk dari terdakwa Nazarudin, maka sama halnya dengan melawan prinsip dasar dalam jaringan kerja permafiaan. Dan para jaringan mafianya yang belum diproses di pengadilan atau apalagi nama-nama mereka belum masuk dalam daftar tunggu untuk diperiksa, akan selalu mengupayakan untuk meringankan hukuman bagi yang sedang berada di kursi pesakitan (seperti halnya Angie) dengan berbagai cara yang sudah sering dilakukan selama ini. Prinsipnya, “biarlah satu atau terbatas saja yang jadi korban atau dikorbankan, yang penting jangan melabar dan membongkar dan menghancurkan jaringan asalnya yang terus eksis melakukan kejahatan sebagai sumber pendapatan bersama”.

Ketiga, posisi Angie, dalam kaitan ini, jelas sudah berbeda dengan Nazarudin meski awalnya sama-sama berada dalam satu jaringan. Nazarudin sudah secara terbuka dan melanggar prinsip permafiaan. Ia merasa tak dilindungi lagi, sudah akan dikorbankan, oleh karena kicauannya yang demikian kencang dalam mengungkap jaringan kejahatan. Tepatnya, dengan berbohong pada saat memberi kesaksian, Angie masih dianggap “kooperatif” oleh teman-temannya di barisan pelaku korupsi.

Dalam skenario jaringan mafia dan koruptor yang berada di belakang Angie, tentu diharapkan agar korbannya paling tidak berakhir pada Nazarudin dan Angie saja. “Ketua besar”, “bos besar” – seperti sudah menjadi pengetahuan publik sekarang ini, atau pihak-pihak terkait lainnya yang diuntungkan dalam kasus wisma atlet dan sejenisnya tidak perlu  diusut lagi. Ini artinya, “komandan” mafianya hendak dilindungi atau diselamatkan, tidak ingin dipermalukan, apalagi memang diduga ada sangkut pautnya dengan jaringan politik kekuasaan di negeri ini.

Kecenderungan seperti ini sungguh memprihatinkan karena Angie dan Nazardin serta pihak lain yang diduga melindungi itu dari parpol yang sedang berkuasa. Tidak mustahil kalau kemudian sorotan negatif publik akan juga kian mengarah bukan saja pada kelembagaan Partai Deemokrat (PD), melainkan juga pada Susilo bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Kepala Negara; yang pada ujung akan melahirkan satu kesimpulan: ternyata negara ini memelihara dan melindungi para mafioso dan koruptor untuk terus berperan dalam penyelenggaraan negara, menghisap darah dan energi serta sumberdaya milik bangsa dari dalam.

Tentu kondisi itu harus dilawan, tak boleh dibiarkan. Pihak Partai Demokrat (PD) sendiri juga mengalami kerugian moril dan politik yang luar biasa akibat ulah dari segelintir kadernya. Padahal, barangkali saja, masih banyak atau ada saja kader-kadernya yang memiliki idealisme dan bersih yang diharapkan bisa berkontribusi positif dalam memperbaiki bangsa ini ke depan. Sehinggta sebenarnya para idealisme dari intern PD harus juga bersuara untuk membersihkan dan menyingkirkan para penjahat dari partainya sendiri. Niscaya rakyat akan apresiasi, sekaligus akan kembali membangkitkan kepercayaan rakyat dari ketak percayaan publik.

Para penegak hukum tentu saja memiliki berbagai cara alternatif untuk membuktikan bohong tidaknya kader PD yang dalam kampanyenya selalu berkata “tidak pada korupsi” itu. Tetapi penyelesaian politik dari pihak SBY sendiri akan sangat menentukan untuk membongkar lebih jauh sampai pada “pemegang komando” jaringan mafia dan korupsi di mana Angie terlibat. Dan, jika SBY juga tak kunjung bersikap tegas untuk membersihkan partai binaannya dari para mafioso dan koruptor maka publik pun akan terus mencurigainya sebagai pihak yang ikut bermain di belakang layar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: